Kisah ini dimulai saat Pangeran Berkacamata jatuh cinta
pada Peri Kecil yang sangat biasa. Awalnya, Peri Kecil tak percaya jika Pangeran
Berkacamata mencintainya, namun pangeran mulai menunjukkan cintanya yang tulus.
Ia rela melakukan apa saja yang bisa membuat senyum Peri Kecil merekah indah. Peri
Kecil pun bahagia mendapati Pangeran Berkacamata menyukainya, menyayanginya,
mencintainya.
Hari
demi hari dilewati Peri Kecil dengan Pangeran Berkacamata. Sampai suatu hari, Peri
Kecil mendengar sesuatu. Ia mendengar bahwa Pangeran Berkacamata tidak bisa
melupakan masa lalunya. Masa lalu yang
mungkin membuat Pangeran Berkacamata lebih bahagia, yang mungkin lebih
indah dari sekarang. Mendengar itu semua, Peri Kecil sedikit kecewa, namun Peri
Kecil mencoba untuk tegar dan sabar. Ia percaya bahwa Pangeran Berkacamata mencintainya,
bukan orang lain.
Lagi, Peri
Kecil mendapati hal lain. Pangeran Berkacamata memberikan sesuatu yang indah
kepada masa lalunya, tepat di hari bahagia masa lalunya. Peri Kecil pun iri, ia
juga ingin mendapati hal yang sama saat hari bahagianya, namun Pangeran
Berkacamata tidak melakukannya.
Lagi
dan lagi, Peri Kecil mengetahui sesuatu, sesuatu yang membuat dirinya tak henti
bersedih. Ia mengetahui jika Pangeran Berkacamata masih memanggil masa lalunya
dengan sapaan sama seperti ketika mereka—pangeran dan masa lalunya—saling jatuh
cinta dahulu. Namun, Peri Kecil tetap sabar. Ia masih percaya pada Pangeran
Berkacamata.
Belum
cukup, Peri Kecil dibuat menangis oleh Pangeran
Berkacamata. Peri Kecil tahu jika Pangeran Berkacamata masih peduli dan cemburu
mendapati orang lain mendekati masa lalunya. Peri Kecil sedih, ia tak habis
pikir kenapa Pangeran Berkacamata melakukan semua itu disaat ia bersama Peri
Kecil?
Bukan
hanya itu, satu lagi yang benar-benar membuat
Peri Kecil merasa bodoh. Ia mengetahui jika Pangeran Berkacamata
mengatakan kepada masa lalunya jika ia tidak pernah mencintai Peri Kecil, pangeran
menuturkan bahwa ia tidak pernah dekat dengat Peri Kecil.
Sampai-sampai
Peri Kecil sudah muak mendengar, melihat, mengetahui ini semua, ia pun ingin
bertemu dengan Pangeran Berkacamata. Ia ingin mendengar penjelasan langsung
dari Pangeran Berkacamata, namun apa yang terjadi? Pangeran Berkacamata tidak mau bertemu dengan
Peri Kecil.
“Apakah
semua itu belum cukup membuat Peri Kecil sedih, Pangeran?”
Si Peri
Kecil menahan air mata yang ingin keluar, tapi ia tak kuasa lagi. Air mata itu
tak hentinya mengalir, mengguyur pipi Peri Kecil yang mungil, setiap malam,
setiap hari. Terlintas di benaknya, terngiang masa indahnya bersama Pangeran Berkacamata,
namun kenyataan pahit membuatnya berteriak dalam hati.
Di saat
Pangeran Berkacamata bersama Peri Kecil, namun pangeran tidak bisa melupakan
masa lalunya.
Di saat
keduanya tertawa bersama, namun Pangeran Berkacamata masih memikirkan masa
lalunya.
Di saat
Peri Kecil mulai mencintai pangeran, namun hati pangeran masih untuk masa
lalunya.
Sedari
dulu, Peri Kecil menyadari bahwa ia memang tak sebaik, tak sesempurna masa lalu
Pangeran Berkacamata. Ia tahu ia hanya peri biasa yang tidak ada apa-apanya
dibanding yang lain. Ia terlalu biasa, sangat biasa malah. Peri Kecil menyadari
bahwa tidak ada orang yang benar-benar mencintainya, Pangeran Berkacamata pun
juga tidak mungkin mencintainya. Ia mengerti itu pada akhirnya. Sangat
mengerti.
Sekarang
Peri Kecil tak tahu harus berbuat apa. Sebenarnya, ia ingin kembali seperti
dulu bersama Pangeran Berkacamata, namun itu tak mungkin. Peri Kecil tahu, Pangeran
Berkacamata pasti sudah tidak mencintainya lagi.
Sederhana
saja, Ia hanya ingin melihat orang yang dicintainya bahagia, walaupun ia harus
merelakannya pergi. Peri Kecil mulai menjauhi Pangeran Berkamata, secara
pelan-pelan. Namun, hal itu malah membuat Pangeran Berkacamata membenci Peri
Kecil. Pangeran Berkacamata bahkan tidak berjuang untuk menemui Peri Kecil. Peri
Kecil tahu ini tak semudah yang ia bayangkan. Pada akhirnya pun, Peri Kecil harus
berpisah dengan Pangeran Berkacamata. Peri kecil tidak bisa menjangkaunya lagi.
Hanya ini yang ingin dikatakan Peri Kecil:
“Cinta itu sebuah
pengorbanan, namun aku tidak pernah mendapatinya dalam dirimu, Pangeran
Berkacamata”