Pesawat terbang?
Siapa yang tidak pernah melihatnya! Saya yakin logam terbang ini sering lalu
lintas di atas jalan raya udara. Namun, pernahkah kamu berpikir bagaimana benda
seberat pesawat dapat melayang bebas di angkasa? Aneh bukan? Untuk menjawab pertanyaan
tersebut, sepertinya kita harus memasuki dunia mekanika fluida.
Seperti kita ketahui bahwa zat yang
termasuk fluida adalah gas dan cairan. Meskipun mereka terbilang berbeda—antara
air,udara, dan oli—namun mereka memiliki hubungan dan prinsip yang sama. Oleh
karena itu lah, udara yang terlihat kosong sebenarnya memiliki lapisan cairan
yang cukup besar. Selain itu, menjadi mungkin untuk kita melintasi udara kosong
tersebut dengan menggunakan aplikasi mekanika fluida yang tepat.
Untuk bisa terbang di angkasa,
pesawat harus memaksimalkan 4 gaya aerodinamis, yakni gaya angkat(lift), gaya
berat(weight), gaya tolak atau dorongan(thrust), dan gaya gesek(drag). Keempat
gaya ini lah yang akan menarik peswat ke arah yang berlainan sehingga bisa
menahan pesawat di udara.
Gaya
tolak adalah kekuatan aerodinamis yang mendorong atau menarik pesawat maju
melalui ruang. Sedangkan lawannya adalah gaya gesek, hambatan yang menghambat
gerakan suatu benda melalui fluida. Contoh sederhana dapat dijumpai saat kamu
mengeluarkan tangan keluar dari jendela mobil saat mobil bergerak. Jumlah gaya
yang dibuat tangan tergantung pada beberapa faktor, seperti ukuran tangan,
kecepatan mobil dan kepadatan udara. Jika kamu memperlambat kecepatan mobil, kamu
akan merasakan bahwa hambatan di tangan akan menurun.
Gaya
tolak harus sama atau lebih besar dari gaya gesek jika ingin menerbangkan
pesawat. Jika jumlah gaya gesek menjadi lebih besar dari jumlah gaya tolak,
pesawat akan melambat. Jika gaya tolak meningkat hingga lebih besar dari gaya
gesek, maka pesawat akan melaju lebih cepat.
Berat merupakan gaya yang menarik pesawat ke arah Bumi.
Setiap benda di bumi memiliki berat, hasil dari gravitasi dan massa. Lawan dari
berat adalah gaya angkat. Gaya angkat ini dicapai melalui penggunaan sayap,
yang juga dikenal sebagai airfoil.
Gaya
angkat pada pesawat terjadi ketika udara melewati sayap. Sayap membagi aliran
udara dalam dua arah, ke atas sayap dan turun di sepanjang bagian bawah sayap.
Sayap dibentuk dan dimiringkan sehingga udara yang mengalir di atas sayap
bergerak lebih cepat dari udara yang mengalir di bawahnya. Ketika udara
mengalir di sebuah benda dan menemukan sebuah rintangan (seperti tonjolan atau
peningkatan mendadak pada sudut sayap), jalur udara akan menyempit dan
kecepatan aliran udara akan meningkat. Setelah melewati rintangan tersebut,
jalurnya kembali melebar dan aliran akan melambat lagi.
Ketika
kecepatan udara meningkat, tekanannya akan menurun. Jadi, udara yang bergerak lebih
cepat di atas sayap, tekanannya akan lebih rendah dibandingkan udara yang
bergerak lebih lambat di bawah sayap. Hasilnya adalah gaya angkat ke atas dan
pesawat pun dapat terbang di udara. Inilah yang sering kita kenal dengan prinsip
Bernoulli. :)
Syahid
Tami
Deni
Edwin
Luthfi
Januar
Anisa
Wening
Wildan
Shinta
Ella
Syahid
Tami
Deni
Edwin
Luthfi
Januar
Anisa
Wening
Wildan
Shinta
Ella
No comments:
Post a Comment